Percikan Hati Nurani ::: OBAT HATI BERKARAT

Percikan Hati Nurani, Sebuah Renungan dari BUKU Budiman al-Hanif
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan meng¬ingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)
Wahai Saudaraku! Rasulullah saw. bersabda, “Sesung¬guhnya hati ini bisa berkarat seperti besi yang karatan.” Rasulullah saw. ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah obat¬nya?” Beliau menjawab, “Membaca Al-Quran.”1
Seorang lelaki berkata kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Al-Hasan menjawab, “Lunakkan dia dengan memper¬banyak zikir (kepada Allah).”
Telah diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Aisyah, “Apakah obat untuk hati yang keras?” Maka Aisyah memerintahkan dia untuk menjengguk orang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, dan mem-bayangkan mati.”‘
Ada juga orang yang mengadu tentang kekerasan hati¬nya kepada Malik bin Dinar maka dia menjawab, “Sering¬lah berpuasa. Apabila hati masih saja keras maka per¬banyaklah melakukan shalat malam. Dan, jika masih juga hati tersebut keras maka jangan terlalu banyak makan.”4
Abdullah bin Khabicj berkata, “Allah menciptakan hati untuk tempat berzikir, akan tetapi berubah fungsi menjadi tempat syahwat.”
Ibrahim bin al-Khawwash berkata,””Obat untuk pe¬nyakit hati itu ada lima: membaca Al-Qur’an dengan merenungkan artinya, mengosongkan perut, melakukan shalat malam, beribadah khusyu pada waktu sahur, dan duduk bersama dengan orang-orang saleh.”5
Hanya orang yang selalu mengetuk pintu hari nuraninya yang tidak bisa dikalahkan dengan setan, sebab ia selalu waspada terhadap setan dengan cara menjauhi tempat-tempat setan.
Jagalah hati, jangan engkau nodai, karena hati adalah lentera hidup. Bersihkan hati dari sifat dendam, dengki, ujub, takabur, dan merasa paling benar. Jangan engkau beri kesempatan satu detik pun untuk berbuat maksiat. Sebab, hati akan menjadi lemah apabila selalu condong berbuat maksiat. Seperti cermin yang kusam yang tidak
bisa memantulkan cahayanya. Maka pandai-pandailah membersihkan cermin itu. Isilah hatimu dengan selalu berzikir kepada-Nya. Sering-seringlah menjenguk orang sakit karena di sana engkau akan menemukan kebijak¬sanaan yang paling dalam. Sebab, dalam dirimu akan menunggu giliran berbaring sakit Itulah keadilan Allah, tidak bisa dikatakan sakit apabila tidak ada yang sehat.
Wahai Saudaraku! Jika engkau makan, jangan terlalu kenyang karena kenyang membuat hati keras dan lalai terhadap Allah. Oleh sebab itu, berpuasalah karena puasa melembutkan hati dan setengah dari sabar. Jangan banyak tertawa karena tertawa membuat hati lalai. Ada satu riwa¬yat bahwa Umar berrwasiat kepada Ahnaf bin Qais, “Wahai Ahnaf, barangsiapa yang banyak tertawa maka kewibawaannya akan berkurang. Barangsiapa banyak bercanda, dia akan diremehkan orang. Barangsiapa yang lebih banyak padanya sesuatu, dia akan dikenal dengan sesuatu itu. Barangsiapa yang banyak berbicara, kesalah¬annya akan semakin banyak. Barangsiapa yang banyak salah, rasa malunya akan berkurang. Barangsiapa yang kurang rasa malunya, berkuranglah kesadarannya, dan barangsiapa yang berkurang kesadarannya, matilah hati¬nya.”
Hati harus dipelihara dari hal-hal yang dapat men¬dekatkan diri dari kemaksiatan. Hati akan bercahaya apabila jauh dari noda dosa. Sebab, jangan engkau biarkan belenggu nafsumu menguasaimu. Dia adalah penjerumus ke jurang kehinaan. Kontrol dia dengan akalmu. Isi akal¬mu dengan Al-Qur’an dan hadits agar dapat mengontrol perasaan dan keinginanmu. Sebab, setiap keinginan tidak selalu benar karena masih di bawah kontrol akal. Sedang¬kan. akal untuk mengontrolnya butuh ilmu. Dan, ilmu
bagi orang yang sudah bcrsyahadat adalah Al-Qur’an dan hadits.
‘Sebenarnya Af-Qur’an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang
diberi ilmu Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (al-‘Ankabuut: 49)
Hanya orang-orang zalim yang mengingkari ayat-ayat Allah karena hatinya gelap dari cahaya kebenaran. Se¬hingga nafsunya diturutinya ke mana dia hendak melang¬kah dan berbuat. Tidak peduli langkahnya itu menuju jurang kehinaan. Yang penting terpenuhi keinginannya. Ketahuilah wahai Saudaraku! bahwa nafsu itu selalu ber¬bual kesalahan kecuali nafsu yang dirahmati oleh Allah, nafsu yang terbelunggu oleh Rahman dan Rahim Allah azza wa jalla.
“Dan aku tidak membekaskan diriku (dari kesa/aban), karena sesunggubnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Yusuf: 53)
Bersihkan hatimu dari nafsu durjana. Obatilah hatimu dengan selalu berzikir. Zikir yang penuh kesadaran bahwa “Kamera Ilahiah selalu mengawasimu. Karena, ada manu¬sia yang basah bibirnya memuji Ilahi, akan tetapi hati mengkhayal, hatinya mengkufuri-Nya. Allah mengetahui isi hatimu dan Maha Mengetahui pandangan mata yang khianat. Renungkan firman Allah dengan kesadaran. Cuci hatimu dengan air kesadaran dan bagunkan liati nurani¬mu untuk merenungkan ayat-ayat Allah.
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam hati ” (al-Mu’min: 19)
“… Dan ketahuilah bahwa tanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. “(al-Baqarah: 235)
Tekadkan niatmu dengan liati yang benar karena se¬tiap perbuatan bermula dari hati. Apabila hati benar maka dia akan selalu berbuat benar. Begitu juga sebaliknya, bila hati kotor maka dia selalu berbuat maksiat. Abu Turab al- Nakhsyabiv berkata, “Jagalah maksud hatimu karena se¬sungguhnya dia adalah awal dari segala sesuatu. Barang- siapa yang sehat maksud hatinya maka pekerjaan dan kondisinya akan sehat pula.”
Wahai Saudaraku! Bersegeralah menyehatkan maksud hatimu. Jangan engkau biarkan maksud hatimu dikuasai oleh setan. Sebab, setan sangat licik, seolah-olah perbuatan kita benar, padahal selalu berbuat riya’. Maka cucilah hati¬mu dengan AJ-Qur’an dan hadits agar tidak berkarat. Karena, karatnya hati akibat tidak pernah diisi dengan membaca Al-Qur’an.

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=176420957&posted=1#post176420957

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    fityah91 said,

    masyaallah..
    terima kasih atas perkongsian ubat hati yang diungkapkan orang-orang yang hebat..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: